Ala Backpacker ke Jogjakarta

Standar

tepatnya bulan Juli, sebulan yang lalu aku berpetualang ke Kota Gudeg, Jogjakarta.. sebenarnya keinginanku untuk pergi kesana sudah lama, cuman aku belum berani untuk pergi kesana sendiri.. 

sekarang aku sudah tingkat III di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Tasikmalaya, aku memberanikan diri untuk pergi ke Jogjakarta. Hari itu hari Selasa, teman kampusku yang lain sedang sibuk konsul KTI, tapi aku udah beres duluan, jadi, bisa sedikit refresh dulu.. hehe

pukul 08.00 aku sudah naik Bis Budiman jurusan tasik-jogja, biayanya hanya 65rb rupaih saja plus gratis makan sekali. tapi berhubung ini adalah bulan Ramadhan, jatah makan gratis gak ada.

temanku yang di jogja sudah berkali2 menanyakan posisiku dimana, soalnya dia mau menjemputku di terminal Giwangan. daerah yang aku lewati tandus sekali,, panaaassssss,,,, banyak debuuu… iiihhh… tapi pada saat memasuki kawasan Jogjakarta, pemandangan berubah menjadi indaaahhhh………

sekitar jam 4 sore sampai di terminal Giwangan, ternyata temanku sudah ada menjemputku, hm.. asyiiikk… kami langsung meluncur ke Pantai Parangtritis (Paris) sengaja biar bisa buka puasa disana.. kami melihat sunset disana.. Gambar

 

berfoto disana ala model… hehe… Gambar

hm… akhirnya buka puasa di Pantai Parangtritis….

Malamnya, kami jalan-jalan ke Alun-alun Kidul Jogjakarta… di tengah2nya ada 2 pohon beringin besar, yang mitosnya jika dapat melewati diantara kedua pohon tersebut dengan keadaan mata tertutup, maka niscaya semua keinginannya akan tercapai. Hiks.. banyak sekali yg nyoba disana…. Akupun penasaran, dan Akhirnya aku berhasil melewati pada percobaan kedua… Horeeeeeee……. Gambar

hm… dan istirahat di kosan temanku.. kalau kalian mau menginap, boleh aja kok, gampang nyari penginapan di sekitar Parangtritis, hanya dengan 25-30ribu permalam dengan fasilitas yang lumayan enak.

keesokan harinya, kami mau berangkat ke candi borobudur, tapi aku foto dulu di Guci raksasa… 

Gambar

biaya ke candi borobudur naik bis hanya 10rb saja sampai ke terminal borobudur, dari sana tinggal naik becak dengan harga 5rb utk 2 orang.. tiket masuk ke borobudur hanya 35rb saja…

pulang dari Borobudur, langsung ke Malioboro….

GambarGambar

 

BAB V

Standar

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.  Hasil Penelitian
    1. 1.      Analisis Univariat
      1. Pengetahuan Kader tentang Posyandu

Tabel 5.1

Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012

Pengetahuan

Jumlah

Persentase

Baik

18

45%

Cukup

17

42,5%

Kurang

5

12,5%

Jumlah

40

100%

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa pengetahuan responden tentang posyandu yang termasuk kategori baik yaitu sebanyak 18 orang sebesar 45% dari jumlah keseluruhan, 17 orang sebesar 42,5% mempunyai pengetahuan cukup dan sisanya 5 orang sebesar 12,5% dari keseluruhan memiliki pengetahuan kurang.

 

 

 

  1. Kunjungan Ibu Balita ke Posyandu

Tabel 5.2

Distribusi frekuensi kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya

Tahun 2012

No

Nama

Sasaran

Jumlah Sasaran
Ya Persentase Tidak Persentase
1 Posyandu A 26 83,87% 5 16,129% 31
2 Posyandu B 50 83,33% 10 16,67% 60
3 Posyandu C 37 82,8% 8 17,78% 45
4 Posyandu D 82 96,47% 3 3,52% 85
5 Posyandu E 68 94,44% 4 5,55% 72
6 Posyandu F 30 53,57% 26 46,42% 56
7 Posyandu G 35 97,22% 1 2,77% 36
8 Posyandu H 20 80% 5 20% 25
9 Posyandu I 152 83,97% 29 16,02% 181
Jumlah 510 86,44% 80 13,559% 590

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa kunjungan ibu balita  posyandu yang termasuk rata-rata baik tetapi ada posyandu yang memiliki angka kunjungan terendah yaitu posyandu F yaitu hanya 53,57% yang hadir ke posyandu.

 

 

  1. 2.      Analisis Bivariat
Responden

Pengetahuan tentang posyandu

Kunjungan Ibu Balita
  Baik Cukup Kurang Jumlah  
Posyandu 1 3 100% 0 0% 0 0% 3 100% 83,87%
Posyandu 2 4 80% 1 20% 0 0% 5 100% 83,33%
Posyandu 3 3 60% 2 40% 0 0% 5 100% 82,8%
Posyandu 4 2 50% 2 50% 0 0% 4 100% 96,47%
Posyandu 5 2 66,6% 1 33,3% 0 0% 3 100% 94,44%
Posyandu 6 0 0% 0 0% 4 100% 4 100% 53,57%
Posyandu 7 1 33,3% 2 66,6% 0 100% 3 100% 97,22%
Posyandu 8 2 40% 3 60% 0 100% 5 100% 80%
Posyandu 9 2 20% 7 70% 1 10% 10 100% 83,97%
Jumlah 20 50% 18 45% 5 5% 40 100%  

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa pengetahuan kader posyandu  termasuk rata-rata baik tetapi ada posyandu yang memiliki angka kunjungan terendah yaitu posyandu 6 yaitu   %  dengan nilai pengetahuan yang rendah pula yaitu 4 orang kader di posyandu tersebut memiliki pengetahuan kurang.

Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan menggunakan program komputer antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di peroleh untuk n=40 dengan α = 0,05 bahwa x tabel = 9,488. Karena x hitung 79,875 > x tabel 9,488 maka Ho ditolak sehingga Ha diterima yang mempunyai arti bahwa terdapat hubungan antara hubungan pengetahuan kader tentang posyandu, dengan interpretasi nilai korelasi sangat kuat.

 

  1. B.  Pembahasan
    1. Pengetahuan tentang Posyandu

Dengan pengetahuan yang tinggi, wawasan dan usaha untuk mencari informasi akan lebih luas, karena orang yang memiliki dasar pengetahuan yang tinggi lebih mudah mengerti dan memahami informasi yang diterimanya bila dibanding dengan seseorang yang berpengetahuan lebih rendah. Berdasarkan penelitian ada responden yang memiliki pengetahuan yang kurang sebanyak 5 orang dan kebanyakan responden yang berpengetahuan kurang paling banyak pada responden yang kunjungan ibu balita ke posyandunya juga sangat rendah yaitu  53,57% dari 56 jumlah sasaran bayi dan balita dan responden yang berpengetahuan baik paling banyak pada kunjungan ibu balita ke posyandu yang memenuhi sasaran paling tinggi yaitu sebanyak 18 orang.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sediaoetama (2010), tingkat pengetahuan tentang posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program posyandu khususnya pemanfaatan meja penyuluhan. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan posyandu. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah pemanfaatan meja penyuluhan karena kurang percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta kurang mampu dalam menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi pengetahuan dalam penyuluhan maka akan semakin baik pemanfaatan meja penyuluhan. Orang dengan pengetahuan penyuluhan yang rendah akan berperilaku tidak ada rasa percaya diri yang berdampak menjadi tidak aktif dalam memanfaatkan meja penyuluhan (Sediaoetama, 2009).

  1. Kunjungan Ibu Balita ke Posyandu

Berdasarkan penelitian ada kunjungan ibu balita ke posyandu yang memiliki kunjungan tertinggi 100% seimbang dengan pengetahuan yang dimiliki oleh kader di posyandu tersebut mempunyai pengetahuan yang baik (90%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sediaoetama (2010), tingkat pengetahuan tentang posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program posyandu khususnya pemanfaatan meja penyuluhan. Pada gilirannya akan mendorong seseorang (kader) untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan posyandu sehingga dapat mempengaruhi kunjungan ibu balita untuk datang ke posyandu.

  1. Hubungan Pengetahuan Kader tentang Posyandu terhadap Kunjungan Ibu Balita ke Posyandu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Desa Mandalajaya Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya, jadi dalam hal ini hipotesis kerja diterima, yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan kader tentang posyandu maka semakin sesuai dengan sasaran kunjungan ibu balita ke posyandu. Hasil penelitian di Desa Mandalajaya menunjukkan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu. Maka dari itu pengetahuan kader diperkirakan ada kaitannya dengan kunjungan ibu balita ke posyandu. Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010), pengetahuan yaitu “apabila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu bidang tertentu dengan benar, baik secara lisan maupun tulisan maka dapat disimpulkan bahwa ia mengetahui bidang tersebut.” Semakin tinggi pengetahuan yang di dapat maka akan semakin baik pula sikap dan tata laku seseorang. Pengetahuan kader tentang posyandu dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya sehingga dalam pelaksanaan mampu mempengaruhi ibu balita yang datang berkunjung ke posyandu  salahsatunya  dengan cara memberikan pengertian tentang pentingnya posyandu sehingga diharapkan semakin baik pengetahuan ibu balita tentang posyandu dan peran kader dapat meningkatkan kunjungannya ke posyandu. Sebaliknya, jika kader tidak mampu menginformasikan dengan baik segala sesuatu yang berhubungan dengan posyandu, maka semakin sedikit pula kemungkinan ibu balita melakukan kunjungan ke posyandu.

Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan Bidan Desa setempat, bahwa pelatihan dan penyuluhan bagi para kader posyandu dilakukan minimal 3 bulan sekali atau disesuaikan dengan program kerja dari Dinas Sosial atau sektor lain yang terkait. Pengetahuan kader tentang posyandu yang sudah didapatkan selanjutnya disalurkan kepada masyarakat salahsatunya melalui kegiatan posyandu. Tetapi meskipun sudah dilakukan pelatihan dan penyuluhan, masih ada diantara mereka yang masih belum memahami sepenuhnya tentang posyandu. Dalam penelitian ini ternyata tidak hanya pengetahuan kader saja yang mempengaruhi kunjungan ibu balita ke posyandu tetapi juga mungkin dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengetahuan ibu balita, pendidikan ibu balita, yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

CONTOH KTI DIII Kebidanan

Standar

HUBUNGAN  PENGETAHUAN  KADER  TENTANG POSYANDU

TERHADAP KUNJUNGAN IBU BALITA KE POSYANDU

DI KELURAHAN SIRNAGALIH

KECAMATAN INDIHIANG

KOTA TASIKMALAYA

 

 

 

 

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menyelesaikan

Program Pendidikan Program Studi Diploma III Kebidanan

Disusun Oleh:

NURUL DINI

MA 0409040

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA KENCANA

TASIKMALAYA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang

Upaya percepatan penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, tentunya akan berhasil apabila melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik unsur pemerintahan maupun unsur masyarakat dan dunia usaha. Kemudian untuk mengintegrasikan kegiatan seluruh kepentingan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, maka Posyandu menjadi salah satu lembaga yang paling tepat, karena keberadaannya sudah cukup lama dan terbukti berhasil mengatasi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, pemberantasan penyakit menular dan lain-lain, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi (Depkes RI, 2006).

Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khusus di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Keikut sertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya dan adaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Puryaning, 2010).

Program posyandu dan peran serta kader dapat berjalan secara optimal dengan upaya-upaya diantaranya pemahaman yang berasal dari pengetahuan yang baik, pelatihan/bimbingan dari puskesmas setempat dan pemberian penghargaan untuk meningkatkan motivasi. Seorang kader yang memiliki motivasi yang tinggi dan kemampuan yang bagus dalam menjalankan tugasnya akan menghasilkan kinerja yang baik. Menurut Widiastuti (2007), motivasi kader dalam pelaksanaan posyandu merupakan suatu faktor dominan yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan penimbangan balita.

Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan (Puryaning, 2010).

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003),  mengklasifikasikan menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu: faktor predisposing merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, kelompok, dan masyarakat, yang mempermudah individu berperilaku seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan budaya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku salah satunya adalah pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau over behavior (Notoatmodjo, 2003).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu, diantaranya:

1. Faktor-faktor Presdisposisi (Presdisposing Factors) : umur ibu, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan ibu, jumlah anak dalam keluarga, pendapatan dan sikap.

2. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing Factors)

Posyandu yang dilakukan oleh kader posyandu yang terampil akan mendapat respon positif dari ibu-ibu balita sehingga kader tersebut ramah dan baik. Kader Posyandu yang ramah, terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan ibu-ibu balita rajin datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu (Yon Ferizal dan Mubasysyir Hasanbasri, 2007).

Menurut Apriliyanto (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kader posyandu memanfaatkan meja penyuluhan yaitu :

  1. Umur

Semakin tua umur seorang kader posyandu maka kesiapan kader posyandu dalam memanfaatkan posyandu (Notoatmodjo, 2003).

  1. Pendidikan

Tingkat pendidikan kader kesehatan yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi sehingga pengetahuan tentang pemanfaatan meja penyuluhan menjadi terhambat atau terbatas (Suhardjo, 2009).

  1. Pekerjaan

Faktor bekerja saja nampak berpengaruh pada peran kader kesehatan sebagai timbulnya suatu masalah pada pemanfaatan meja penyuluhan serta tidak ada waktu kader mencari informasi karena kesibukan mereka dalam bekerja (Depkes RI, 2000).

  1. Pendapatan

Bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah dalam pemanfaatan meja penyuluhan tidak akan berjalan lancar, sebaliknya apabila tingkat pendapatan meningkat dalam pemanfaatan meja penyuluhan akan lancar (Notoatmodjo, 2003).

  1. Pengetahuan

Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku didalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pengetahuan tentang posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program posyandu khususnya pemanfaatan meja penyuluhan. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan posyandu. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah pemanfaatan meja penyuluhan karena kurang percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta kurang mampu dalam menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari (Sediaoetama, 2009).

Semakin tinggi pengetahuan dalam penyuluhan maka akan semakin baik pemanfaatan meja penyuluhan. Orang dengan pengetahuan penyuluhan yang rendah akan berperilaku tidak ada rasa percaya diri yang berdampak menjadi tidak aktif dalam memanfaatkan meja penyuluhan (Sediaoetama, 2009).

  1. f.        Sikap (Attitude)

Pada penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoatmojo, 2003).

Pendapat dari bidan tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih yaitu  kader posyandu yang berpendidikan SD sebanyak 80% dari jumlah keseluruhan kader, 60% kader berusia 40 tahun ke atas, 80% kader bekerja sebagai IRT, dan pengetahuan tentang posyandu belum merata di semua kader (Bidan Desa Sirnagalih, 2012).

Salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang dibentuk oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Posyandu merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan yang dikelola oleh masyarakat dengan dukungan teknis petugas puskesmas. Kegiatan posyandu meliputi 5 program pelayanan kesehatan dasar, yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Imunisasi, Keluarga Berencana (KB), perbaikan gizi dan penanggulangan diare (Depkes RI, 2006).

Pelaksanaan penimbangan di posyandu berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dilaporkan dari 15 juta balita yang berusia 0 -59 bulan di Indonesia, cakupan penimbangan balita 4 – 6 kali dalam 6 bulan hanya 46%. Sementara masih terdapat 25,5% balita tidak pernah ditimbang.

Dalam Riskesdas juga dilaporkan posyandu masih merupakan sarana paling tinggi sebagai sarana kegiatan penimbangan balita (Litbangkes, 2008). Cakupan pelaksanaan penimbangan balita yang dilihat dari pelaksanaan penimbangan di posyandu pada tahun 2011, dimana hasil penimbangan balita masih rendah dari 23.009.874 balita hanya sebesar 67.87% balita yaitu 15.616.801 yang ditimbang di posyandu (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pusdatin, data & informasi, Jakarta, 2011). Menurut tingkat perkembangannya di Indonesia pada tahun 2003 tercatat 245.154 unit posyandu dengan total lapor 242.221 unit posyandu.

Menurut data dari Survei GAVI-HSS Ditjen Bina Gizi KIA, seluruh desa di Provinsi Jawa Barat telah memiliki Posyandu, bahkan ada desa/kelurahan yang memiliki 84 posyandu. Rata-rata jumlah kader per posyandu adalah 5 orang, dengan persentase rata-rata kader aktif per Posyandu adalah 89%. Sementara rata-rata jumlah kader per posyandu yang sudah dilatih program KIA adalah sebanyak 2 orang. Namun demikian berdasarkan data dalam Sistem Informasi Posyandu, bahwa ternyata dari seluruh Posyandu di Provinsi Jawa Barat yang mencapai 47.265 Posyandu, 26,22  % Posyandu masih tergolong Posyandu Pratama dan 46,77 % Posyandu Madya sehingga tingkat cakupan programnya rata-rata kurang dari 50 %. Kemudian  terdapat 22,6 % Posyandu Purnama yang dapat didorong menjadi Posyandu Mandiri dan baru 4,35 % Posyandu Mandiri (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2010).

Di Kota Tasikmalaya terdapat 729 buah posyandu dengan total yang lapor ada 729 posyandu. Target jumlah kader yang ada 3.467 sedangkan yang aktif ada 3.035 orang. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat jumlah balita gizi buruk pada 2011 sebanyak 4.261 jiwa. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tercatat saat ini tercatat ada 84.378 balita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.057 balita yang rutin dilakukan penimbangan dan dikontrol di posyandu setempat. Sementara sisanya sebanyak 35.321 balita kondisi kesehatannya tidak terkontrol karena tidak melakukan penimbangan. Jumlah balita di Indihiang 2.619 jiwa. Jumlah balita yang memiliki KMS yaitu 2.512 jiwa. Jumlah bayi yang ditimbang di posyandu sebanyak 2.196 jiwa.

Di Puskesmas Indihiang terdapat 47 Posyandu dengan total lapor ada 47 Posyandu. Target jumlah kader yang ada 231 sedangkan yang aktif 215 orang. Jumlah kader di Kelurahan Sirnagalih sebanyak 39 orang (Dinas Kesehatan kota Tasikmalaya, 2011). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Wilayah Kerja UPTD (Unit Pelaksana Tingkat Daerah) Puskesmas Indihiang Januari-Mei tahun 2012 yang dilakukan dengan pendataan pada pelaksanaan kegiatan posyandu Kelurahan Sirnagalih didapatkan cakupan kunjungan balita yang sesuai dengan standar sebesar 60% dari 584 balita hanya 350 balita yang datang ke posyandu. Data ini menunjukkan penimbangan balita dan pemantauan tumbuh kembang balita di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya belum maksimal.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :”Adakah hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012?”

 C.  Tujuan Masalah

  1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.

  1. Tujuan Khusus
    1. Mendapatkan gambaran pengetahuan kader tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
    2. Mendapatkan gambaran tentang kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
    3. Menganalisa hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
  1. D.  Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Mengembangkan kajian tentang hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kader yang dapat menunjang akan meningkatnya cakupan kunjungan balita.

  1. Manfaat Praktis
    1. Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian serta sebagai media pembelajaran untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan.

  1. Bagi Kader Posyandu

Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan bagi kader agar dapat meningkatkan pelayanan posyandu. dengan tujuan untuk meningkatkan kunjungan balita ke posyandu khususnya.

  1. Bagi Instansi Kesehatan

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Instansi kesehatan khususnya puskesmas dalam meningkatkan kualitas pelayanan dengan berperan serta bersama kader untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk memahami peran dan fungsi posyandu khususnya.

  1. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan referensi, dokumentasi dan sebagai bahan pustaka.

E.  Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran pustaka, penulis menemukan penelitian dengan judul “Gambaran pendidikan dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko di wilayah kerja Puskesmas Berangas tahun 2011” oleh Asheni Fahriyah Tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil sampel secara cluster sampling dan variabelnya pendidikan kader dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko .

Sedangkan penelitian ini mengambil judul, yaitu :” Hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012”. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah jenis penelitiannya yaitu korelatif dengan menggunakan total sampling dan variabel penelitiannya yaitu pengetahuan kader tentang posyandu dan kunjungan ibu balita ke posyandu.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.      Pengetahuan
    1. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010), pengetahuan yaitu “apabila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu bidang tertentu dengan benar, baik secara lisan maupun tulisan maka dapat disimpulkan bahwa ia mengetahui bidang tersebut.” Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang.

Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (http://id.wikipedia.org/ diakses tanggal 8 juni 2012).

  1. Kategori Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

a.  Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% – 100%  dari seluruh petanyaan.

b.  Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% – 75%  dari seluruh pertanyaan.

c.  Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% – 55% dari seluruh pertanyaan.

  1. Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
    1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalahmengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifk dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

  1. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untukmenjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

  1. Aplikasi (application)

Aplikasi diarttikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

  1. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

  1. Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

  1. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasiatau penilaian terhadap sutu materi atau objek.

  1. B.       Kader
    1. Pengertian

Menurut Ismawati (2010), kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan.

  1. Syarat-syarat Kader Posyandu

Adapun syarat-syarat seorang kader harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Dapat membaca dan menulis.
  2. Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
  3. Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
  4. Mempunyai waktu yang cukup.
  5. Bertempat di wilayah posyandu.
  6. Berpenampilan ramah dan simpatik.
  7. Mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu.
  8. Tugas Kader Posyandu
    1. Melakukan kegiatan bulanan posyandu.

Tugas kader posyandu pada hari H- atau saat persiapan hari buka Posyandu, meliputi:

1)      Menyiapkan alat dan bahan, yaitu alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, LILA, alat pengukur, obat-obatan yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), bahan/materi penyuluhan.

2)      Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu-ibu untuk datang ke posyandu.

3)      Menghubungi Pokja Posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa dan meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sektor bisa hadir pada hari buka posyandu.

4)      Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

  1. Kegiatan setelah pelayanan bulanan posyandu

Tugas-tugas kader setelah hari buka Posyandu, meliputi:

1)      Memindahkan catatan-catatan dalam Kartu Menuju Sehat ke dalam buku register atau buku bantu kader.

2)      Menilai hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari posyandu pada bulan berikutnya.

3)      Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) merupakan tindak lanjut dan mengajak ibu-ibu datang ke Posyandu pada kegiatan berikutnya.

  1. Pelatihan Kader Posyandu

Seorang calon kader wajib mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu, seperti :

  1. Konsep posyandu balita
  2. Gizi seimbang, penentuan status gizi balita, cara menentukan status gizi balita, serta penentuan Bawah Garis Merah (BGM), serta pengukuran status gizi dengan menggunakan KMS.
  3. Pemanfaatan dan pemberian ASI ekslusif.
  4. Makanan pendamping ASI yang sehat.
  5. Penyakit yang sering di derita oleh balita, pertolongan pertama pada kecelakaan dan pengobatan balita di rumah.
  6. Stimulasi tumbuh kembang anak.
  7. Pengukuran antropometri (Ismawati, 2010).
  1. C.      Posyandu
    1. Pengertian

Pengertian posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak balita (Karwati, dkk, 2011).

  1. Kegiatan Pelayanan Posyandu

Kegiatan posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau pilihan.

  1. Kegiatan utama, sekurang-kurangnya mencakup 5 kegiatan, yaitu:

1)      Kesehatan ibu dan anak

2)      Keluarga berencana

3)      Imunisasi

4)      Gizi

5)      Pencegahan dan penanggulangan diare.

  1. Kegiatan pengembangan atau pilihan, dapat menambah kegiatan baru disamping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dengan baik. Kegiatan baru tersebut misalnya :

1)      Bina keluarga balita (BKB).

2)      Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial kejadian luar biasa (KLB). Misalnya infeksi saluran nafas akut, demam berdarah, gizi buruk, polio, campak dan tetanus neonatorum.

3)      Program diservikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui tanaman obat keluarga.

4)      Berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.

  1. Sasaran Posyandu

Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar yang ada di posyandu terutama :

  1. Bayi dan anak balita
  2. Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
  3. Pasangan usia subur
  4. Pengasuh anak
  5. Strata Posyandu

Ada 4 strata dalam posyandu, diantaranya:

  1. Posyandu Pratama (merah)

Syarat-syaratnya, yaitu :

1)      Keadaan : posyandu belum mantap

2)      Penimbangan <8 kali

3)      Rata-rata jumlah kadernya 5 orang

4)      Cakupan kumulatif KIA <50%

5)     Cakupan kumulatif KB <50%

6)     Cakupan kumulatif Imunisasi <50%

  1. Posyandu Madya (kuning)

1)     Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan rendah

2)     Penimbangan >8 kali

3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)     Cakupan kumulatif KIA <50%

5)     Cakupan kumulatif KB <50%

6)     Cakupan kumulatif Imunisasi <50%

  1. Posyandu Purnama (hijau)

1)     Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan.

2)     Penimbangan >8 kali

3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)     Cakupan kumulatif KIA >50%

5)     Cakupan kumulatif KB >50%

6)     Cakupan kumulatif Imunisasi >50%

7)     Cakupan dana sehat <50%

8)     Program pengembangan posyandu sudah ada.

  1. Posyandu Mandiri (biru)

1)     Keadaan : Kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan dan dana sehat.

2)     Penimbangan >8 kali

3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)     Cakupan kumulatif KIA >50%

5)     Cakupan kumulatif KB >50%

6)     Cakupan kumulatif Imunisasi >50%

7)     Cakupan dana sehat >50%

8)     Program pengembangan posyandu sudah aktif (Ismawati, 2010).

  1. Manfaat Posyandu
    1. Bagi masyarakat

1)     Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi balita dan ibu.

2)     Pertumbuhan balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk.

3)     Bayi dan balita mendapatkan kapsul vitamin A.

4)     Ibu hamit terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah serta imunisasi tetanus toksoid.

5)     Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah.

6)     Memperoleh penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.

7)     Apabila terdapat kelainan pada balita, ibu hamil, ibu nifas menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas.

8)     Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang ibu dan balita.

  1. Bagi kader

1)     Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih lengkap.

2)     Ikut berperan serta nyata dalam perkembangan tumbuh kembang balita dan kesehatan ibu.

3)     Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang terpercaya dalam bidang kesehatan.

4)     Menjadi panutan karena telah mengabdi demi pertumbuhan balita dan kesehatan ibu (Karwati, dkk, 2011).

  1. Pelaksanaan Posyandu

Dilaksanakan sekurang-kurangnya satu hai dalam satu bulan. Apabila diperlukan hari buka posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Ada 5 meja posyandu, yaitu:

  1. Meja 1

1)      Bumil/bayi/balita datang ke posyandu.

2)      Kader melakukan pendaftaran pada ibu dan balita yang datang pada buku register.

  1. Meja 2

1)      Menimbang bayi/ /ibu yang datang ke posyandu.

2)      Melaksanakan pengukuran dengan pita Lila (bagi WUS).

3)      Hasil penimbangan/pengukuran dituliskan pada secarik kertas tadi

  1. Meja 3

1)      Mencatat hasil penimbangan pada KMS.

2)      Ajari ibu balita untuk mengetahui cara membaca KMS.

3)      Menilai berat badan (naik/tetap/turun).

4)      Memasukkan data ke SIP (register bayi/balita/bumil).

  1. Meja 4

Memberikan penyuluhan/ konseling secara perorangan/ per kasus.

  1. Meja 5

1)      Pelayanan oleh tenaga kesehatan/ BKKBN.

2)      Pemberian Makanan Tambahan Penyuluhan (PMT  Penyuluhan), Oralit, Vitamin A, Tablet Fe, Rujukan, dan lain-lain (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2011).

  1. D.      Balita
    1. Pengertian

Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah (www.wikipedia.com).

Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi lahir dua minggu. Meskipun masa bayi sering dianggap sebagai masa bayi baru lahir, tetapi label masa bayi akan digunakan untuk membedakannya dengan periode pasca natal yang ditandai dengan keadaan sangat tidak berdaya (Hurlock, 2008).

  1. Karakteristik Balita

Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12 Juni 2012).

  1. Tumbuh Kembang Balita

Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni:

  1. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki, anak akan berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
  2. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu meraih benda dengan jemarinya.
  3. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengeksplorasi keterampilan-keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan lain-lain. Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan gejala kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak. Dengan kata lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh anak, disertai penambahan ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini ditandai oleh:

1)          Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.

2)          Bertambahnya ukuran lingkar kepala.

3)          Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.

4)          Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot. Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut, kuku, dan sebagainya (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12 Juni 2012).

  1. Kunjungan Ibu balita ke posyandu

Kunjungan Ibu Balita di Posyandu adalah keteraturan kegiatan atau proses yang terjadi beberapa kali atau lebih. Peran serta ibu dalam menimbangkan balitanya ke Posyandu dilihat berdasarkan frekuensi kehadiran balita dalam kegiatan posyandu, dimana dikatakan teratur jika frekuensi penimbangan minimal 8 (delapan) kali dalam waktu satu tahun dan dikatakan tidak teratur jika frekuensi penimbangan kurang dari 8 (delapan) kali dalam satu tahun (Depkes RI, 2004).

Kunjungan balita ke Posyandu adalah datangnya balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan misalnya penimbangan, imunisasi, penyuluhan gizi, dan sebagainya. Kunjungan balita ke posyandu yang paling baik adalah teratur setiap bulan atau 12 kali per tahun. Untuk itu kunjungan balita diberi batasan 8 kali pertahun. Posyandu yang frekuensi penimbangan atau kunjungan balitanya kurang dari 8 kali pertahun dianggap masih rawan. Sedangkan bila frekuensi penimbangan sudah 8 kali atau lebih dalam kurun waktu satu tahun dianggap sudah cukup baik, tetapi frekuensi penimbangan tergantung dari jenis posyandunya (Dinkes Prov. Jabar, 2007).

Sehingga dapat disimpulakan bahwa ibu balita dapat dikatakan berperan serta baik dalam kegiatan posyandu yaitu jika dalam frekuensi minimal 8 kali pertahun atau lebih, dan sebaliknya ibu balita dikatakan berperan serta buruk atau kurang baik yaitu jikan kunjunngannya ke posyandu kurang dari 8 kali pertahun.

Faktor – faktor yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu (Sri poedji, 2002).

  1. Umur balita

Umur balita merupakan permulaan kehidupan untuk seseorang dan pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensi berjalan sangat cepat. Menurut Sri Poerdji  menyatakan bahwa umur hingga 35 bulan merupakan umur yang paling berpengaruh terhadap kunjungan karena pada umur ini merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Khususnya balita diatas usia 36 bulan, karena ibu balita merasa bahwa anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap dan perkembangan sosial anak semakin bertambah.

  1. Jumlah anak

Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi kehadiran ibu yang mempunyai anak balita untuk hadir atau berpartisipasi dalam posyandu. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Hurlock (2005) bahwa semakin besar keluarga maka semakin besar pula permasalahan yang akan muncul dirumah terutama untuk mengurus kesehatan anak mereka.

Dalam kaitanya dengan kehadirannya di posyandu seorang ibu akan sulit mengatur waktu untuk hadir di posyandu karena waktunya akan habis umtuk memberi perhatian dan kasih sayang dalam mengurus anaknya di rumah.

  1. Status pekerjaan ibu

Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu- ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga  dan waktu untuk mengasuh anak akan berkurang, sehingga ibu balita yang harus bekerja di luar rumah waktunya untuk berpartisipasi dalam posyandu mungkin sangat kurang bahkan tidak ada sama sekali untuk ikut berpartisipasi di posyandu.

Sedangkan pada ibu rumah tangga  memungkinkan mempunyai waktu lebih banyak untuk beristirahat dan meluangkan waktu untuk membawa anaknya ke posyandu.

Peran ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja sangat berpengaruh terhadap perawatan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari waktu yang diberikan ibu untuk mengasuh dan membawa anaknya berkunjung ke posyandu masih kurang karena waktunya akan habis untuk menyelesaikan semua pekerjaan.

Aspek lain yang berhubungan dengan alokasi waktu adalah jenis pekerjaan, tempat ibu bekerja serta jumlah waktu yang dipergunakan untuk keluarga di rumah ( Husnaini, 1989).

  1. Jarak tempat tinggal

Jarak antara tempat tinggal dengan posyandu sangat mempengaruhi ibu untuk hadir / berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Hal tersebut sesuai dengan dinyatakan oleh lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003) bahwa faktor lingkungan fisik/ letak geografis berpengaruh terhadap perilaku seseorang/ masyarakat terhadap kesehatan. Ibu  balita tidak datang ke posyandu disebabkan karena ibu tersebut jauh dengan posyandu sehingga ibu balita trrsebut tidak datang untuk mengikuti  kegiatan dalam posyandu.

Demikian juga yang dikemukakan oleh WHO dalam Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa sikap akan terwujud didalam satu tindakan tergantung dari situasi pada saat itu. Ibu balita mau datang ke posyandu tetapi karena jaraknya jauh/situasi kurang mendukung maka balita tidak berkunjung ke posyandu.

BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL

DAN HIPOTESIS

 

A.      Kerangka Konsep

Menurut teori Green dalam Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu, diantaranya:

  1. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing factors)
  1. Pengetahuan kader

Kunjungan ibu balita ke posyandu

Variabel Independen                                       Variabel Dependen

b.  Umur kader

c.  Pendidikan kader

d. Pekerjaan kader

e.  Pendapatan kader

f.  Sikap kader

  1. Faktor-Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Pengetahuan

Pendidikan

Pekerjaan

Paritas

Pendapatan

Gambar 3.1

Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan :

= variabel yang diteliti                        = variabel yang tidak diteliti

=  hubungan variabel yang diteliti         = hubungan variabel yang tidak diteliti

B.       Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kategori Skala
1 Pengetahuan kader Pemahaman kader tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan posyandu yang dapat dinilai dari hasil jawaban yang  didapat pada saat penelitian. Kuesioner 1. Baik 76% – 100%

2. Cukup 56% – 75%

3. Kurang 40% – 55% (Arikunto,2006)

Ordinal
2 Kunjungan ibu balita ke posyandu Ibu balita yang membawa anak balita (12 – 59 bulan) yang

memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan ke posyandu pada saat dilakukan penelitian (Juknis SPM, 2008).

Lembar cecklist
  1. Baik >75%

2. Cukup 60-75%

3. Kurang <60% (Arikunto,2010)

Ordinal

 C.      Hipotesis

Ha : Ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.

Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.

Contoh Kata Pengantar Makalah

Standar

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur seraya dilimpahkan kehadirat-Nya yakni Allah SWT. Sehinga penulis dapat menyelesaikan makalah ASKEB IV (patologi kebidanan) yang berjudul “Adneksitis dan Pelviksitis”. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Adapun tugas ini disusun guna memenuhi tugas ASKEB IV (patologi kebidanan) di STIKes Mitra Kencana.

Dalam pembuatan makalah ini penulis banyak mengalami hambatan yang dihadapi. Namun akhirnya semua kesulitan tersebut dapat diatasi. Mengingat hal itu, penulis menyadari dan meyakini bahwa dalam menyelesaikan makalah ini penulis tidak lepas dari kesulitan dan kekurangan yang dihadapi. Dan dalam pembuatan makalah ini penulis juga mendapat bantuan, dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat :

  1. Eneng Daryanti, SST, selaku ketua prodi Diploma III Kebidanan
  2. Dewi Sri Handayani, SST, selaku dosen mata kuliah ASKEB IV (patologi kebidanan)
  3. Lina Marlina, SST, selaku dosen mata kuliah ASKEB IV (patologi kebidanan)

Untuk itu semua saran dan kritik yang sifatnya membangun, penulis terima dengan tangan terbuka. Besar harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua untuk menambah ilmu pengetahuan. Amin

Tasikmalaya,  Mei 2011

Penulis

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………… 1
  2. Tujuan……………………………………………………………………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian………………………………………………………………………………………. 2
  2. Etiologi…………………………………………………………………………………………… 3
  3. Patofisiologi……………………………………………………………………………………. 4
  4. Tanda dan Gejala…………………………………………………………………………….. 4
  5. Klasifikasi………………………………………………………………………………………. 5
  6. Diagnosa………………………………………………………………………………………… 7
  7. Prognosis………………………………………………………………………………………… 7
  8. Penatalaksanaan………………………………………………………………………………. 7

BAB III CONTOH KASUS

  1. Subjektif……………………………………………………………………………………….. 10
  2. Objektif………………………………………………………………………………………… 11
  3. Analisa…………………………………………………………………………………………. 13
  4. Penatalaksanaan…………………………………………………………………………….. 13

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………… 14
  2. Saran……………………………………………………………………………………………. 14

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya, mengalami gangguan seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kita dapat mengenal organ reproduksi dengan baik sehingga kita dapat melakukan deteksi dini apabila terdapat gangguan pada organ reproduksi. Organ reproduksi pada wanita dibedakan menjadi dua, yaitu organ kelamin dalam dan organ kelamin luar. Organ kelamin luar memiliki dua fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi.

Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan salah satunya adalah radang yang terjadi akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus dan bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan-jaringan sekitarnya dan biasa disebut dengan adneksitis. Menurut (Winkjosastro,Hanifa.Hal.396,2007) prevalensi adneksitis di Indonesia sebesar 1 : 1000 wanita dan rata-rata terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.Adneksitis bila tidak ditangani dengan baik akan menyebar keorgan lain disekitarnya seperti misalnya ruptur piosalping atau abses ovarium,dan terjadinya gejala-gejala ileus karena perlekatan, serta terjadinya appendisitis akuta dan salpingo ooforitis akuta. Maka dari itu sangat diperlukan peran tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara lebih dalam tentang adneksitis dan penatalaksanaannya dengan konsep asuhan kebidanan.

Pelviksitis suatu peradang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut dengan akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah menahun. Salah satu dari infeksi tersebut adalah pelviksitis, serviksitis, adneksitis dan salpingitis

Sebagian besar wanita tidak menyadari bahwa dirinya menderita infeksi tersebut. Biasanya sebagian besar wanita menyadari apabila infeksi telah menyebar dan menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu. Keterlambatan wanita memeriksakan dirinya menyebabkan infeksi ini menyebar lebih luas dan akan sulit dalam penanganannya.

Contoh Makalah Kesehatan

Standar

Bagi Anda yang berkuliah di di Jurusan Kesehatan tentu akan mendapatkan tugasPembuatan Makalah tentang Kesehatan. Nah, sebagai bahan referensi berikut ini ada contoh Makalah KesehatanMakalah kesehatan di bawah ini difokuskan pada Penyakit Jantung dan Stroke yang menjadi penyakit yang sering di derita di Indonesia.

Makalah Kesehatan
Nah, berikut adalah contoh Makalah Kesehatan selengkapnya:

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit jantung dan stroke merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan. Bahkan sekarang ini di Indonesia penyakit jantung menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian.

Penyakit jantung dan stroke sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. Dulu memang penyakit-penyakit tersebut diderita oleh orang tua terutama yang berusia 60 tahun ke atas, karena usia juga merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Namun sekarang ini ada kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.

Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit jantung dan stroke.

1.2 Permasalahan

Permasalahan yang dangkat dalam penulisan makalah ini ialah:
1. mengapa penyakit jantung bisa terjadi?
2. apakah sebenarnya penyakit jantung itu?
3. bagaimanakah cara mencegah penyakit jantung?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penyebab Penyakit Jantung

Faktor yg menyebabkan terkena resiko penyakit jantung sebagai mana dikemukakan di dalam Satu Kongres Kardiolog di Munich Jerman yaitu :
1) Smooking atau Merokok – yg paling berbahaya menurut mereka
2) Tekanan darah tinggi
3) Penyakit gula atau Diabetes
4) Satu skema pembagian lemak = waist to hip ratio
5) Pola Makan yang salah
6) Kegiatan fisik yang berlebihan
7) Mengkonsumsi Alkohol
8) Banyaknya lemak di dalam darah
9) Faktor psikososial
Namun ada empat faktor utama penyebab penyakit jantung, yaitu :
1. merokok terlalu berlebihan selama bertahun-tahun
2. kadar lemak darah (kolesterol) yang tinggi
3. tekanan darah tinggi
4. penyakit kencing manis

2.2 Penyakit Jantung

Jantung (bahasa Latin, cor) adalah sebuah rongga, rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani cardia untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ yang berperan dalam sistem peredaran darah.

Serangan jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan jantung sama sekali tidak berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan sering disebut gagal jantung. Penyebab gagal jantung bervariasi, namun penyebab utamanya biasanya adalah terhambatnya suplai darah ke otot-otot jantung, oleh karena pembuluh-pembuluh darah yang biasanya mengalirkan darah ke otot-otot jantung tersebut tersumbat atau mengeras, entah oleh karena lemak dan kolesterol, ataupun oleh karena zat-zat kimia seperti penggunaan obat yang berlebihan yang mengandung Phenol Propano Alanin (ppa) yang banyak ditemui dalam obat-obat seperti Decolgen, dan nikotin.
Belakangan ini juga sering ditemukan gagal jantung mendadak ketika seseorang sedang beraktivitas, seperti yang menyerang beberapa atlit-atlit sepak bola ternama di dunia di tengah lapangan sepak bola. Biasanya hal itu disebabkan oleh pemaksaan aktivitas jantung yang melebihi ambang batas, atau kurangnya pemanasan sebelum melakukan olah raga.

2.3 Mencegah Penyakit Jantung dengan Pola Hidup Sehat

Upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut. Untuk pencegahan penyakit jantung & stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi. Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan. Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya. Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.

Berhenti merokok merupakan target yang harus dicapai, juga hindari asap rokok dari lingkungan. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.

Kurangi minum alkohol. Makin banyak konsumsi alkohol maka kemungkinan stroke terutama jenis hemoragik makin tinggi. Alkohol dapat menaikan tekanan darah, memperlemah jantung, mengentalkan darah dan menyebabkan kejang arteri. Lakukan Olahraga/aktivitas fisik. Olahraga dapat membantu mengurangi bobot badan, mengendalikan kadar kolesterol, dan menurunkan tekanan darah yang merupakan faktor risiko lain terkena jantung dan stroke
Kendalikan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah. Hipertensi merupakan faktor utama terkena stroke dan juga penyakit jantung koroner. Diabetes juga meningkatkan risiko stroke 1,5-4 kali lipat, terutama apabila gula darahnya tidak terkendali. Hindari penggunaan obat-obat terlarang seperti heroin, kokain, amfetamin, karena obat-obatan narkoba tersebut dapat meningkatkan risiko stroke 7 kali lipat dibanding dengan yang bukan pengguna narkoba.

Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke dengan Tumbuhan Obat

Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit jantung dan stroke mempunyai efek melancarkan sirkulasi darah dan sebagai antikoagulan yaitu mencegah penggumpalan darah, karena penyakit jantung dan stroke penyebab utamanya adalah gangguan pada pembuluh darah.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa Penyakit jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan Jantung tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal-hal tersebut antara lain:

• Otot jantung yang lemah. Ini adalah kelainan bawaan sejak lahir. Otot jantung yang lemah membuat penderita tak dapat melakukan aktivitas yang berlebihan, karena pemaksaan kinerja jantung yang berlebihan akan menimbulkan rasa sakit di bagian dada, dan kadangkala dapat menyebabkan tubuh menjadi nampak kebiru-biruan. Penderita lemah otot jantung ini mudah pingsan.

• Adanya celah antara serambi kanan dan serambi kiri, oleh karena tidak sempurnanya pembentukan lapisan yang memisahkan antara kedua serambi saat penderita masih di dalam kandungan. Hal ini menyebabkan darah bersih dan darah kotor tercampur. Penyakit ini juga membuat penderita tidak dapat melakukan aktivitas yang berat, karena aktivitas yang berat hampir dapat dipastikan akan membuat tubuh penderita menjadi biru dan sesak nafas, walaupun tidak menyebabkan rasa sakit di dada. Ada pula variasi dari penyakit ini, yakni penderitanya benar-benar hanya memiliki satu buah serambi.

3.2 Saran

Tidak ada penanggulangan yang lebih baik untuk mencegah penyakit dan serangan jantung, di samping gaya hidup sehat (seperti sering bangun lebih pagi, tidak sering tidur terlalu larut malam, dan menghindari rokok dan minuman beralkohol), pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak terlalu banyak makan makanan berlemak dan berkolesterol tinggi), dan olah raga yang teratur dan tidak berlebihan, hal tersebut diatas merupakan saran yang baik untuk dijalankan bagi tiap orang untuk menjaga kesehatan terutama Jantung.

Nah, semoga contoh Makalah Kesehatan di atas dapat membantu jalannya perkuliahan Anda selama menjadi mahasiswa di kampus. Semoga menjadi mahasiswa yang sukes.

PROMO!!!!

Standar

Jasa pembuatan Karya Tulis kesehatan / Makalah tentang Kesehatan dan bentuk tulisan lainnya.
Untuk tugas sekolah / perkuliahan dan sebagainya.

Harga Bisa Negosiasi. Jasa minimal Rp 25.000,- per tulisan dan Pokoknya bisa Nego.

Menerima layanan temu dalam area Tasikmalaya dan sekitarnya. Dapat dikirim secara On-Line / via mail dan makalah yang sudah jadi dikirim ke tempat tujuan, hanya dengan membayar 10 ribu perak saja. Makalah sudah dijilid / sesuai dengan kebutuhan pemesan.
Waktu penyelesaian pekerjaan ini standarnya 3 hari namun dapat dinegosiasikan jika anda memerlukan waktu yang lebih CEPAT.

.
Bagi yang berminat dapat mengirim konfirmasi dalam sms ke 085 223 27 67 37

Jasa langsung tanpa perantara.

-terima kasih-
Nurul Dini